Alasan yang Mungkin Membuat Anda Sebal dengan Hari Valentine

Alasan yang Mungkin Membuat Anda Sebal dengan Hari Valentine

Alasan yang Mungkin Membuat Anda Sebal dengan Hari Valentine

KABARBERITAONLINE – Semua orang tahu, setiap 14 Februari sering dimaknai menjadi hari kasih sayang atau Hari Valentine. Akan tetapi siapa kira, ada yang memandang romantis (43%), tetapi tidak dikit pun yang memandang terlalu berlebih (57), berdasar pada survey yang dikerjakan orang Amerika pada 2017.

Dalam beberapa literatur ilmiah, Hari Valentine bahkan juga cuma dicap menjadi arena lomba usaha yang dapat “meracuni” customer. Situs Livescience bahkan juga memberikan laporan banyak hal yang mungkin dapat menggugah Anda tidak untuk terlalu berlebih rayakan Valentine.

1. Taktik pemasaran

Beberapa studi menyaratkan, Valentine hanya ide yang dimaksud “teori resistensi” yang membuat seorang tidak mempunyai pilihan serta mesti patuhi ketentuan yang telah ada.

Dalam studi 2008 yang diedarkan Journal of Business Research, Hari Valentine dipandang seperti waktu yang pas buat pelaku bisnis untuk mengeruk keuntungan dari customer. Perihal ini dapat dibuktikan dengan survey yang disatukan pada tahun 2000-2006, seorang seperti harus memberikan suatu pada pasangannya. Walau sebenarnya perihal ini dapat membunuh arti dari hadiah spesifik.

Dalam survey itu, 88 % pria serta 75 % wanita masih tetap memberi suatu walau hadiah itu ialah barang bikinan tangan atau sebatas makan malam bikinan rumah. Mereka memandang itu bukti cinta.

Valentine pun kelihatannya membuat orang untuk selekasnya merajut jalinan baru. Sekitar 81 % pria serta 50 % wanita pun memberikan laporan terasa harus untuk menghadiahkan. Selain itu, beberapa single jadi tersingkirkan di Hari Valentine.

2. Tidak membuat perubahan dalam hubungan

Lepas dari status jalinan, Hari Valentine mungkin dipandang dapat tingkatkan keintiman. Akan tetapi satu studi tahun 2014 mensurvei individu yang tersambung dengan online mengenai bagaimana Hari Valentine merubah penilaian mereka pada pasangannya.

Akhirnya, pasangan yang mempunyai permasalahan disuruh mengingat kembali romansa dalam hubungan. Tetapi nyatanya hubungan tidak pun lebih baik.

“Salah satunya pesan penting dari makalah ini ialah Hari Valentine sebetulnya tidak membuat ketidaksamaan buat banyak orang,” papar penulis studi William Chopik, seseorang ilmuwan sosial di Michigan State University.

3. Anda jadi sedikit melodramatik

Satu studi 2010 sempat minta peserta untuk memberikan laporan bagaimana perasaan mereka mengenai Hari Valentine pada pertengahan Januari. Pada 16 Februari, peserta yang sama kembali di tanya mengenai Hari Valentine.

Beberapa periset temukan, ekstrovert condong lihat emosi hari esok mereka lewat sinar yang lebih cerah, sesaat beberapa orang dengan cenderung neurotik kuatir condong terasa begitu jelek mengenai Valentine (terpenting bila mereka masih tetap lajang). Nyatanya benar jika ekstrovert terasa lebih baik mengenai Hari Valentine. Tetapi kenyatannya, ke-2 grup itu dipandang melebih-lebihkan tanggapan emosional mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *