Banyak yang Membela Robertus Robet Tersangka Kasus Penghinaan Terhadap TNI

Banyak yang Membela Robertus Robet Tersangka Kasus Penghinaan Terhadap TNI

Banyak yang Membela Robertus Robet Tersangka Kasus Penghinaan Terhadap TNI

KABARBERITAONLINE – Orasi dosen Kampus Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus juga aktivis, Robertus Robet, dilaporkan oleh anggota polisi ke polisi atas pendapat penghinaan pada TNI. Buntut laporan itu, Robet lalu diamankan oleh Bareskrim Polri serta diputuskan menjadi terduga.

Oleh Direktorat Siber Bareskrim Polri, Robet dijaring dengan masalah 207 KUHP mengenai penghinaan pada penguasa atau tubuh hukum di Indonesia.

Masalah Robet sudah mendapatkan banyak sorotan. Beberapa pihak mengkritik kepolisian serta bahkan juga minta penyelidikan untuk di stop. Masukan itu hadir dari Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah sampai orang politik PSI.

Fahri Hamzah, menyesalkan penangkapan Robertus. Fahri mengakui telah kenal Robet semenjak masih tetap jadi mahasiswa.

“Saya kenal Robert semenjak kuliah di UI, lawan debat yang berat, serta berlainan dalam beberapa hal. Tetapi penangkapan ia oleh aparat ialah tragedi pada kebebasan memiliki pendapat serta ekspresi. Ia cuma memperingatkan kita masalah bahaya #DwiFungsiABRI, waktu lantas kita yang kelam,” kata Fahri melalui Twitter, Kamis (7/3).

Seirama Fahri, Koordinator juru bicara Tubuh Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, pun menanyakan polisi yang langsung tangkap Robet.

“Setahu saya, apakah yang dikatakan @Republik_Baru ialah pesan untuk memperingatkan ada waktu saat lagu itu dikumandangkan untuk menantang dwifungsi ABRI waktu itu, serta Robet mengaku jika salah satunya reformasi yang sangat sukses sekarang ini ialah Reformasi TNI, janganlah tarik kembali TNI ke waktu itu,” catat Dahnil lewat account Twitternya, Kamis (7/3/2019). @Republik_Baru ialah account Twitter Robertus Robet.

“Penangkapan pada @Republik_Baru pasti seakan menafikan kebiasaan logika yang sehat, Robet bicara dengan sistematika yang benar, ia memperingatkan ada waktu dimana dwifungsi laku lalu ada waktu reformasi TNI sukses, akan tetapi ada waktu yaitu sekarang ini dimana seakan ingin menarik-narik kembali TNI. Saya malah tidak temukan penghinaan pada TNI berkaitan pengakuan @Republik_Baru, kenapa dengan sekelebat polisi langsung tangkap Robet?” katanya.

Jubir PSI, Surya Tjandra, mengatakan supaya aparat kepolisian selekasnya membebaskan dosen UNJ itu dari semua dakwaan.

“Menampik penangkapan saudara Robertus Robet serta minta aparat kepolisian untuk selekasnya membebaskannya dari semua dakwaan pidana,” tutur jubir PSI, Surya Tjandra, dalam info tercatat, Kamis (7/3).

“Apakah yang dikatakannya ialah ekspresi kebebasan memiliki pendapat yang ditanggung oleh UUD 1945 masalah 28, serta negara terutamanya kepolisian harus mengawasi itu,” paparnya.

Masukan atas penangkapan Robertus pun dikatakan ormas Projo. Projo memiliki pendapat jika apakah yang dikerjakan Robertus Robet dalam tindakan Kamisan ialah bentuk kebebasan mengekspresikan kecemasan militerisme hidup kembali di Indonesia.

Projo memandang kegelisahan itu muncul sebab rumor kebijaksanaan tempatkan personil militer aktif pada jabatan-jabatan sipil di instansi pemerintah adalah langkah mundur dari Reformasi 1998.

“Projo minta dengan begitu Mabes Polri supaya melepas atau membebaskan Robet. Kontrol atau keinginan klarifikasi tidak mesti dengan diawali penangkapan, terkecuali ada aksi yang tidak kooperatif dari yang berkaitan,” kata Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi pada wartawan, Kamis (7/3).

PDIP pun memandang penangkapan pada Robertus ialah perihal yang terlalu berlebih. Ditambah lagi, Robertus sudah menuturkan tujuan ucapannya dalam orasi.

“Penangkapan pada aktivis Robertus Robet menurut saya terlalu berlebih. Ditambah lagi telah diterangkan oleh Robert jika lagu yang dinyanyikan bukan diperuntukkan pada institusi TNI ini hari tapi pada kebijaksanaan rezim militer Suharto di waktu waktu lalu,” tutur orang politik PDIP Charles Honoris, Kamis (7/3).

Robertus sudah mohon maaf berkaitan orasinya yang dipandang mengejek institusi Polri. Robertus bahkan juga mohon maaf 2x, lewat video serta dengan cara langsung di muka wartawan di Mabes Polri.

Sekarang Robertus Robet sudah diizinkan pulang saat dicheck polisi berkaitan masalah penghinaan institusi TNI. Walau diizinkan pulang, polisi menyatakan proses penyelidikan masih tetap selalu berjalan.

“Tentu saja proses penyelidikan yang dikerjakan oleh Direktorat Siber Bareskrim masih berjalan sama dengan standard operasional mekanisme yang laku,” tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Kamis (7/3).

Robet disangka melanggar Masalah 45 A ayat (2) jo 28 ayat (2) Undang-Undang Nomer 1 Tahun 1946 mengenai Ketentuan Hukum Pidana serta/atau Masalah 207 KUHP berkaitan tindak pidana sebarkan info yang diperuntukkan untuk memunculkan perasaan kedengkian atau permusuhan individu dana tahu grup penduduk spesifik berdasar pada atas suku, agama, ras, serta antargolongan (SARA), serta/atau berita bohong (hoaks), serta/atau penghinaan pada penguasa atau tubuh umum yang berada di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *