Cerita Interaksi Damai dengan Suku Misterius di Pulau Sentinel Utara

Cerita Interaksi Damai dengan Suku Misterius di Pulau Sentinel Utara

Cerita Interaksi Damai dengan Suku Misterius di Pulau Sentinel Utara

KABARBERITAONLINE – Hampir saat 20 tahun, usaha merajut koneksi dengan suku misterius di Pulau Sentinel Utara belum pernah sukses dikerjakan. Akan tetapi, pengecualian untuk peristiwa yang berlangsung pada 4 Januari 1991, saat untuk pertama-tama –sekaligus terakhir– team ekspedisi dari dari India sukses berhubungan dengan sebagian orang dari komune sangat tertutup dalam dunia itu.

Triloknath Pandit, seseorang antroplog terpenting asal India membulatkan tekad bersama dengan timnya untuk mendekati Pulau Sentinel Utara, dengan membawa beberapa “peralatan hadiah” berbentuk beberapa hasil Bumi, yang peluang dapat jadikan daya tawar untuk bicara dengan suku misterius disana.

Beberapa benda itu dibawa berdasar pada hasil pelajari bersama dengan mengenai catatan riwayat hubungan pada penjelajah Barat dengan penduduk di Dunia Baru. Pelajari itu dikerjakan dengan beberapa pakar berkaitan bersama dengan timnya dan perwakilan pemerintah India.

Dana ekspedisi diambil beberapa dari tabungan pribadi TN Pandit –nama pena sang ilmuwan– dan kombinasi dari pertolongan pemerintah serta beberapa sponsor.

Dalam satu interviu sesudah ekspedisi selesai, Pandit berujar: “Mereka dengan suka-rela maju untuk menjumpai kami, serta itu tidak dapat diakui. Mereka mesti memutuskan jika saatnya waktu datang. Itu mustahil berlangsung dengan mendadak.”

“Ada rasa sedih ikut, saya merasakan. Serta muncul perasaan jika pada taraf yang semakin besar dari riwayat manusia, beberapa orang ini yang bertahan dengan triknya sendiri, selanjutnya mesti menyerah. Ini seperti satu masa dalam riwayat hilang,” sambungnya sambil menyebutkan pengalaman itu menjadi perihal yang pahit.

Pandhit meceritakan jika saat timnya merekam video peristiwa bersejarah itu, dianya ada begitu dekat dengan beberapa orang yang berjalan dengan sangsi mengarah kapal.

“Dengan perasaan kuatir, mereka masuk ke air pantai, berjalan perlahan untuk ambil beberapa barang yang kami lemparkan. Kami semua selalu tunjukkan muka ketertarikan, serta beberapa team saya coba mencairkan situasi dengan menari-nari serta bergumam tidak jelas. Mereka nampaknya tertarik. Panah mereka di turunkan, tak ke arah pada kami,” ceritanya panjang lebar.

Dokumentasi rapi yang dipunyai oleh Pandhit sukses memikat publik dunia, yang mengatakan menjadi salah satunya perolehan terunggul dalam pengetahuan antropologi.

Atas hal itu juga, pada September. 1991, pemerintah India memberikan zone eksklusif sejauh lima km. di seputar Pulau Sentinel Utara, yang disebut amandemen ketetapan Perlindungan Suku Aborigin di Andaman serta Nikobar (ANPATR) terbitan tahun 1956.

Pembentukan zone ini dipandang seperti langkah pro aktif untuk menahan nelayan, pemburu serta wisatawan dari berkunjung ke pulau itu, walau beberapa pakar masih skeptis.

Beberapa tokoh pemerhati lingkungan, termasuk juga beberapa pakar antropologi seperti Pandit, menyebutkan amandemen itu cuma tampak fenomenal di permukaan. Mereka menuding jika bisa jadi pengecualian berlangsung oleh instansi pemerintah, atau mereka yang mempunyai kemampuan spesifik untuk menekan kehidupan asli ditempat.

Belajar dari Pengalaman Kelam Suku Jarawa

Dapat disebutkan, tidak lagi ada yang dapat berhubungan lebih dekat dengan masyarakat asli Pulau Setinel Utara tidak hanya TN Pandit. Beberapa ekspedisi yang dikerjakan sesudahnya tetap berbuntut pada serangan yang dikerjakan oleh grup primitif ditempat.

Hal tersebut, ikut bersama dengan tekanan dari dunia internasional pada pelestarian suku aborigin. Membuat pemerintah India hentikan izin kunjungan ke Sentinel Utara, sejak 1996.

Larangan itu ikut menyusul penemuan fatal pada penerimaan dampak moderen oleh Suku Jarawa, dalam ekspedisi sama beberapa waktu awal mulanya.

Suku primitif di selatan Kepulauan Andaman itu mulai terbuka pada kehadiran orang asing semenjak pertengahan. 1980-an, walau belumlah dapat dimengerti benar mengenai langkah komunikasinya.

Semenjak kontak yang semakin intens dengan manusia moderen pada awal 1990-an, beberapa permasalahan mulai tampil di komune Jarawa. Epidemi campak ialah perihal yang sangat menggelisahkan saat itu, dimana berdasar sebagian pakar adalah penyebaran virus yang baru disana.

Lebih memilukannya kembali, sebagian orang Jarawa ikut mendapatkan dampak jelek dari alkoholisme serta eksploitasi seksual.

Sekarang ini, komune Jarawa yang sejumlah seputar. 250-an jiwa masih menggenggam sejumlah besar pola hidup primitif, di dalam beberapa dampak moderen yang masuk. Mereka juga tak akan seutuhnya tertutup, serta sudi untuk terima kunjungan orang asing, walau dengan penagwasan ketat.

Akan tetapi, dunia internasional ingin supaya pengalaman jelek yang menerpa Suku Jarawa tidak terulang lagi pada komune primitif yang lain. Atas tekanan banyak pihak, pemerintah India juga mengambil keputusan larangan keras untuk bertandang ke pulau-pulau primitif, untuk mengawasi keasliannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *