Kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab Diwarnai Kritikan

Kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab Diwarnai Kritikan

Kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab Diwarnai Kritikan

KABARBERITAONLINE – Kunjungan bersejarah pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, di Uni Emirat Arab (UEA) menandai set baru dalam riwayat jalinan antaragama. Di lain sisi, kunjungan ini memetik kritikan dari organisasi HAM internasional, terutamanya untuk pemerintah UEA.

Dalam pesan lewat video, Paus Fransiskus menyebutkan kunjungannya ini menandai ‘babak baru dalam riwayat jalinan antaragama, mengonfirmasi jika kita semua bersaudara, walau kita berbeda’.

Didapati jika sebagian besar masyarakat UEA berpedoman Islam, akan tetapi negara ini mempunyai populasi ekspatriat yang besar. Seputar 1,2 juta masyarakat UEA adalah penganut Kristen. Sebagian besar masyarakat Kristen di UEA adalah keturunan India serta Filipina.

Dalam kunjungan saat tiga hari di Abu Dhabi, UEA, Paus Fransiskus akan hadir pertemuan antaragama dengan beberapa pemimpin Yahudi serta Kristen. Paus Fransiskus diskedulkan berjumpa dengan Imam Masjid Al-Azhar, Ahmad al-Tayeb, dalam komunitas itu. Pertemuan itu bisa menjadi pertemuan ke empat pada Paus Fransiskus serta Al-Tayeb.

Puncak dari kunjungan bersejarah itu ialah misa yang akan diselenggarakan di Zayed Sports City pada Selasa (5/2) besok, yang akan didatangi. 135 ribu orang serta diprediksikan cetak rekor menjadi acara perkumpulan publik paling besar di UEA. Otoritas UEA mengambil keputusan hari Selasa (5/2) besok menjadi hari libur untuk beberapa orang yang hadir misa Paus Fransiskus.

Dalam pesan videonya, Paus Fransiskus memberikan pujian pada UEA menjadi ‘tanah yang berupaya jadi mode buat koeksistensi, persaudaraan manusia serta pertemuan pada peradaban serta budaya berbeda’.

Otoritas UEA memang sudah menggaungkan upaya-upaya mempromokan koeksistensi agama, diantaranya dengan menunjuk Menteri Toleransi pada tahun 2016 serta mengambil keputusan tahun 2019 menjadi ‘tahun toleransi’.

Akan tetapi kelompok-kelompok serta aktivis HAM menyebutkan beberapa langkah itu menjadi langkah ‘simbolis’ belaka, dengan menyebutkan pengusutan sewenang-wenang pada beberapa orang yang berlainan opini masih tetap ramai berlangsung beberapa waktu paling akhir. Amnesty International bahkan juga menyebutkan otoritas UEA manfaatkan kunjungan Paus Fransiskus untuk arah itu.

“Otoritas UEA berupaya menyebutkan. 2019 menjadi ‘tahun toleransi’ serta saat ini berusaha tunjukkan kunjungan Paus menjadi bukti dari perasaan hormat mereka pada keberagaman. Apa ini bermakna mereka (UEA-red) siap untuk mencabut kebijaksanaan penindasan yang sistematis pada tiap-tiap bentuk ketidaksamaan opini atau kritikan?” ucap Direktur Riset Timur Tengah pada Amnesty International, Lynn Maalouf, dalam pengakuannya.

Dalam pengakuan itu, Amnesty International pun mengatakan pada Paus Fransiskus untuk mengusung rumor kekerasan serta penahanan beberapa pembela. HAM dalam kunjungannya ke UEA.

“Semenjak tahun 2011, otoritas (UEA-red) sudah dengan sistematis menindak kasar tiap-tiap pengkritik mereka, termasuk juga aktivis, hakim, pengacara, akademisi, mahasiswa serta jurnalis lewat penahanan sewenang-wenang, penghapusan paksa, penyiksaan serta perlakuan kasar yang lain,” tegas Maalouf.

Belumlah ada respon sah dari pemerintah UEA pada kritikan dari Amnesty International ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *